Sudah tiga
minggu sejak meletusnya gunung Merapi, murid-murid SMPN 16 Sleman belajar di
tenda pengungsian darurat. Tentu saja tidak nyaman. Belum lagi suara dentuman
keras Merapi yang silih berganti.
Pagi ini
seperti biasa, kami belajar di tenda pengungsian. Namun ada satu kejanggalan.
Hei! Di mana Pak Aldi, wali kelas kami yang baik hati?
“Rin, kamu tau gak di mana Pak Aldi?”, Tanyaku pada Rini.
“Gak tau juga. Menurut kabar yang beredar, Pak Aldi kena wedhus
gembel!”, Kata Rini sedih.
“Innalillahi Wa inna lillahi rajiun!” Aku terkejut sekali
mendengarnya.
Tak lama proses
belajar mengajar dimulai. Sejak ditetapkannya zona bahaya 20 km dari puncak
merapi, murid-murid terpaksa belajar di tenda yang sumpek ini. Soalnya, sekolah
kami hanya berjarak 17 km dari puncak Merapi. Begitu juga rumah murid-muridnya.
Mereka semua mengungsi di tenda yang sama denganku, namaku Liza Wijaya dan
sekarang duduk di kelas VIII SMP. Kami semua di sini, mengungsi dengan cemas,
takut akan erupsi merapi dan hujan abu yang mengganggu pernafasan.
******
Saat istirahat
sekolah keesokan harinya, hujan deras melanda Sleman dan disertai petir yang
saling bersahut-sahutan.
“Banjir..! Banjir..! selamatkan barang kalian!!”, Teriak salah
seorang murid kelas 9.


