Kamis, 21 Juli 2016

Menjadi 6.72% Peserta USM PKN STAN 2016 Terbaik, Siapa Bilang Mudah?


Tahun ajaran terakhir di SMA adalah tahun yang cukup sulit bagiku. Bayangkan saja, di tahun terakhir ini aku harus mulai memikirkan UN, mengulang seluruh materi-materi yang pernah kupelajari dua tahun sebelumnya dan juga memikirkan kemana selanjutnya aku kuliah. Dari semua pikiran menyibukkan itu, tentu pikiran tentang akan melanjutkan kemana yang membuatku pusing tujuh keliling.

Sejak awal kelas dua sebenarnya orangtuaku sudah menyarankan agar aku melanjutkan kuliah di STAN atau Sekolah Tinggi Akuntansi Negara mengikuti jejak kakak permpuanku yang sudah lebih dulu kuliah di sana. Aku juga tak keberatan karena kuliah di STAN merupakan mimpiku dari kelas satu SMA. Setelah dipikir-pikir,  saat itu aku tak tahu pasti kenapa aku pengen banget kuliah di situ. Rasanya ya cuma pengen aja. Alhasil, sejak awal tahun ajaran baru kelas tiga aku sudah menenteng buku latihan USM STAN yang dibelikan kakakku. Aku waktu itu merencanakan untuk mulai latihan mengerjakan soal setidaknya sekali dalam seminggu. Ya, namanya juga rencana doang dan kesibukan-kesibukan kelas tiga yang banyak, aku nggak bisa memenuhi rencana itu.

Seiring berjalannya waktu, aku juga mulai memikirkan rencana cadangan jika aku tidak lolos dalam USM STAN di kemudian hari. Itu artinya, aku tidak hanya harus mempersiapkan diri buat USM STAN, melainkan juga tes SBMPTN dan Ujian Mandiri PTN lainnya. Belum lagi, saat itu aku tidak lagi tertarik dengan jurusan-jurusan yang sesuai dengan kelas yang kuambil saat SMA, yaitu MIPA. Aku lebih tertarik untuk lintas jurusan ke soshum karena merasa tertekan dengan pelajaran yang ada di MIPA.
Tentu saja sebelum memantapkan hati untuk lintas jurusan, aku berkonsultasi dengan banyak orang dan membaca berbagai referensi tentang memilih jurusan. Di saat aku sedang mencari ilham itulah, aku yang sudah mengikuti berbagai sosial media Zenius karena banyaknya review positif tentang platform tersebut, menemukan sebuah artikel menarik tentang cara memilih jurusan.



Menarik banget kan? Setelah itu, entah kenapa aku menjadi sangat tertarik dengan Zenius Education. Aku membaca hampir seluruh artikel yang diterbitkan Zenius dan mendapat banyak sekali motivasi untuk terus berjuang keras demi apa yang aku inginkan. Dari blog itu, aku juga membenahi cara belajarku. Jujur, aku ini orangnya adalah tipe penghapal pelajaran apalagi pelajaran yang banyak bacaannya seperti PKN, fisika, dan biologi. Namun, semenjak membaca banyak artikel tentang konsep di Zenius, aku mulai mengubah cara belajarku.

Awal semester dua, aku membujuk orangtuaku agar aku diperbolehkan membeli voucher zenius untuk tiga bulan. Saat itu, orangtuaku terlebih bapakku menentangnya. Alasan beliau waktu itu adalah kuota internet yang akan terkuras habis karena belajar melalui internet sementara beliau tidak mau aku terlalu boros. Namun, setelah aku menunjukkan screenshot tweet Zenius Education bahwa satu video hanya memakan kuota sebesar 3-30 MB, barulah beliau setuju.

Maka, dimulailah revolusi belajarku dengan Zenius Education. Tujuan utamaku belajar dengan zenius adalah untuk mempersiapkan SBMPTN yang sebagian besar materinya tak pernah kupelajari. Bayangkan saja, darimana aku mendapat materi Sosiologi dan Geografi sementara aku memilih jurusan MIPA? Untung saja aku memilih lintas minat Ekonomi dan sempat beberapa kali mengikuti lomba yang berkaitan dengan ekonomi sehingga pelajaran itu dapat kepelajari belakangan.

Aku sadar, baru belajar di awal semester dua untuk persiapan SBMPTN lintasjurusan adalah sesuatu yang sangat terlambat. Oleh karena itu, aku mengikuti saran dari sebuah artikel dizenius untuk mengatur jam belajarku. Pagi sampai siang aku belajar seperti biasa di sekolah, kemudian sore sampai malam aku belajar untuk SBMPTN sehabis makan malam, aku belajar buat UN sampai jam sepuluh dan setelah itu belajar untuk USM STAN.  

Materi pertama yang kupelajari buat SBMPTN adalah Sosiologi. Dari dulu, aku beranggapan bahwa Sosiologi adalah pelajaran hapalan yang membosankan dan penuh teori. Namun, semenjak belajar dengan Bang Pio aku sadar bahwa sosiologi tak perlu dihapal, tapi dipahami dan dilogikakan. Aku juga merasa sangat enjoy mendengar penjelasan Bang Pio yang praktis dan mudah diingat. Alhasil, selama satu minggu penuh aku menuntaskan semua video materi sosiologi tanpa sisa. Selama itulah, aku juga berusaha mengerjakan soal-soal TPA USM STAN yang bikin pusing tujuh keliling. Jujur, kalo dilihat sekilas, materi matematika di TPA USM STAN kebanyakan adalah pelajaran SMP yang keliatannya gampang untuk dikerjakan. Tapi pas sudah dicoba.. beuh, pusing euy. Mana caranya muter-muter. Belum lagi bagian sinonim-antonim yang kata-katanya jarang sekali digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Untukmenyiasati ketidaktahuanku akan arti kata dari bahasa sendiri, aku mencatat setiap kata baru yang kutemukan dalam notebook kecil dan membacanya ketika waktu luang atau sebelum tidur.

Memang pusing dan ribet banget sih ketika kita harus mempersiapkan dua bahkan tiga hal (UN, SBMPTN, USM STAN) sekaligus demi masa depan. Tapi, belajar untuk mempersiapkan SBMPTN dan USM STAN dalam satu waktu ada untungnya juga loh. Istilahnya, sekali dayung dua-tiga pulau terlampaui. Materi USM STAN kan hanya TPA (Tes Potensi Akademik)  dan TBI (Tes Bahasa Inggris) yang mana kedua materi itu juga diujikan dalam SBMPTN. Jadi singkatnya, kalo kamu bisa mengerjakan soal-soal TPA dan TBI STAN,kamu pasti bisa mengerjakan soal TPA dan Bahasa Inggris SBMPTN. Secara, soal USM STAN berkali lipat lebih susah dibanding soal dengan konteks yang sama di SBMPTN. Apalagi soal TBI-nya!

Pertama kali, uji TO USM STAN secara mandiri hasil TBI-ku bener-bener hancur. Jumlah antara jawaban yang salah bahkan melebihi jumlah jawaban yang benar. Waktu itu, aku frustasi banget sama kemampuan grammar-ku yang minus. Untuk mengatasinya, aku nggak tinggal diam aja. Aku mulai belajar grammar dari awal lagi lewat buku grammar yang udah lama kubeli tapi jarang banget kusentuh, tanya-tanya temen sekamar (waktu SMA aku asrama), sampai ngorek-ngorek materi Bahasa Inggris SBMPTN di website zenius. Aku juga mempelajari bahasan soal USM STAN tahun lalu yang dibahas di Zenius. Aku waktu itu ‘all out’ banget buat belajar bahasa inggris sampai rela nggak ikut acara tahunan yang paling dinanti di sekolah demi belajar grammar! 
Jujur, belajar grammar cuma dengan baca buku doang sama sekali ngga bisa masuk di otak. Berkali-kali aku belajar hal yang sama tapi masih ngga ngerti juga. Untunglah aku ketemu video materi Kak Donnita yang enak banget beliau ngajarin grammar-nya. Sampai kadang aku merasa kayak bodoh banget dari dulu ngga ngerti-ngerti bedain past perfect sama present perfect tapi pas udah nonton video Kak Donnita semua itu jadi terasa ngga susah. Kedengarannya alay ya, tapi itulah kenyataanya. Bagiku, mentor favorit di zenius itu Kak Donnita. Thanks ya kak, you helped me a lot that time

Menjelang bulan April, aku mengurangi frekuensi belajar buat SBM dan USM untuk lebih fokus sama UN. Tapi, mengurangi bukan berarti tidak sama sekali lo. Kadang, kalo aku jenuh pas ngerjain soal latihan UN Kimia atau Biologi aku buka-buka materi SBM Soshum buat selingan. Aneh banget kan, materi kayak gitu kok jadi selingan? Tapi efektif juga loh buat mengefisienkan waktu.

Selesai UN, aku ambil waktu bentar buat istirahat belajar sampai pertengahan bulan April. Habis itu, baru aku mulai belajar lagi. Kali ini, orangtuaku menyuruhku untuk fokus ke USM STAN saja dan berharap pada SNMPTN. Waktu itu aku galau banget sama perintah orangtuaku. Kalau aku merelakan nggak belajar buat SBMPTN dan malah bergantung pada SNMPTN yang peluangnya kecil, apa jadinya jika hasil SNMPTN dan USM nantinya nggak sesuai harapan? Tapi, Alhamdulillah Allah telah mengatur rezeki untuk setiap hamba-Nya. Aku keterima SNMPTN di Akuntansi UNDIP, pilihan pertamaku. Aku senang luar biasa. Itu artinya, aku ngga perlu khawatir lagi dengan SBMPTN dan mulai fokus ke USM STAN yang waktunya tinggal seminggu lagi.

Seminggu terakhir menjelang USM, aku benar-benar fokus belajar. Setiap hari, aku mengadakan Try Out mandiri untuk memperkirakan waktu serta menyusun strategi. Aku sadar, yang terpenting dalam mengerjakan soal USM adalah bagaimana caramu menjawab soal sebanyak-banyaknya dan sebenar-benarnya. That means, you dont need to answer all of the questions. Kamu cuma harus menjawab soal yang paling kamu bisa dengan sebaik-baiknya dan jangan sampai salah. Strategiku waktu itu, lewati soal yang pakai cara ribet dan jangan menjawab soal kalo ngga tau apa jawaban pastinya karena kemungkinan salahnya 50%. Aku bahkan ngga pernah serius menjawab soal yang bagian menebak gambar selanjutnya dari beberapa gambar yang telah diurutkan. Bagiku, soal seperti itu adalah yang tersusah dan menghabiskan terlalu banyak waktu untuk berpikir. Selain belajar dengan giat, ibadah dengan giatnya juga nggak dilupakan karena usaha tanpa doa sama aja bohong.
Hingga akhirnya, tibalah hari pertempuran tanggal 15 Mei. Jeng..jeng..jeng..aku deg-degan banget waktu masuk tempat ujian dan ngeliat ratusan anak lain juga berjuang buat lulus di tahap pertama ini. Sambil komat-kamit berdoa supaya dimudahkan, aku memantapkan hati untuk tidak gugup. Ketika tes dimulai, aku terkejut dengan ketiadaan jam di kelas tempat aku ujian. Itu artinya, aku ngga bisa memperkirakan waktu. Guguplah aku.

Selesai ujian dan keluar dari kelas, aku tertunduk lemas. Jujur, soalnya susah dan karena ngga ada jam di ruangan serta ngga boleh memakai jam, aku jadi kelabakan di menit-menit terakhir. Aku cuma bisa jawab 66 soal TPA. Padahal targetku mengerjakan 80 soal untuk bisa lolos dari nilai mati dan dapat nilai tinggi. Mana soal TBI-nya susah banget lagi. Ngomong-ngomong soal nilai mati, mungkin masih ada yang bingung apa sih sebenarnya arti dari nilai mati itu?  Jadi, nilai mati adalah sejenis passing grade dimana nilainya yaitu 1/3 dari setiap bagian soal. Ibaratnya, kita harus bisa menyelesaikan dengan benar dan tepat lebih dari 1/3 soal TPA dan TBI untuk bisa lulus di tahap pertama. Karena soal TPA ada 120 dan soal TBI ada 90, maka kita ‘cuma’ harus menjawab 40 soal TPA dan 30 soal TBI dengan benar. Eits, tapi jangan senang dulu. Dengan hanya lolos nilai mati itu nggak cukup loh karena kita tidak tahu pasti berapa jumlah yang diambil untuk lolos ke tahap selanjutnya. Oleh karena itu, kerjakanlah soal dengan benar dan tepat sebanyak-banyaknya yang kamu bisa agar dapat nilai yang tinggi.

Untuk melihat bagaimana sulitnya soal USM tahun ini, kamu bisa mengklik link di sini. 

Sebenarnya, saking merasa sulitnya soal USM tahun ini, aku ingin sekali meremas kertas BPU-ku (Bukti Peserta Ujian) setelah sampai rumah. Aku pesimis bisa lolos ke tahap selanjutnya walaupun aku sudah mengusahakan yang terbaik. Yang bisa kulakukan selama menunggu hasil tahap pertama keluar hanya berdoa dan berdoa semoga diberikan hasil terbaik yang kuinginkan. Hingga akhirnya tanggal 25, tanggal pengumuman ujian tahap pertama, tiba. Aku yang sengaja bangun agak siang waktu itu terpaksa bangun ketika mendengar dering nada sms masuk. Ternyata dari kakakku dan you know, dia memberitahuku kalau aku...

LULUS TAHAP PERTAMAA..!!!

Betapa bahagia dan terharunya aku karena setelah perjuanganku belajar selama beberapa bulan tidak mengkhianati hasil. Dengan setengah mengantuk dan setengah tidak percaya, aku langsung membuka website PKN STAN dan melihat namaku dengan mata kepala sendiri. Aku tak henti-hentinya berterimakasih pada Allah sembari mensyukuri pada waktu setelah ujian kemarin, aku tidak jadi meremas kertas BPU-ku.

Persentase Kelulusan Ujian Tahap Pertama USM PKN STAN 2016
https://www.facebook.com/usmpknstan2017/photos/pb.491050424408561.-2207520000.1469164990./549415331905403/?type=3&theater


Untuk semua yang sudah membantuku, orangtuaku, kakakku yang bersedia menjawab pertanyaan soal-soal TPA di antara waktu kuliah, Kak Regina yang udah ngebantu masalah TBI-ku, Kak Donnita selaku Tutor Bahasa Inggris Zenius yang udah membuatku tidak lagi menyerah untuk belajar grammar, teman-temanku, makasih banyak. Tanpa kalian aku nggak akan bisa ada di titik ini. Dan untuk para pejuang USM STAN 2017, mulailah latihan sejak dini. Jangan pernah berhenti untuk berjuang dan belajar. Bermimpilah setinggi langit, guys. Karena percayalah, ketika nanti kamu jatuh, setidaknya kamu jatuh di antara bintang-bintang.



Ps: pengalamanku yang ujian tahap kedua dan ketiga bakal aku post di postingan selanjutnya ya. Terlalu panjang kalau di sini.


5 komentar:

Maho Lycious mengatakan...

mntp kk ceritanya

Unknown mengatakan...

Terus itu snmptnnya dicabut dong kak?

Unknown mengatakan...

Bner" menginspirasi!!!! jadi makin yakin buat beli paket Voucher nya Zenius, daritadi aku bingung untuk pake Les Online apa...

ELFISHY mengatakan...

Nilai un nya dipakai ga kak?

Unknown mengatakan...

Ig nya dong kak

Posting Komentar