Tahun ajaran terakhir di SMA adalah tahun yang cukup sulit
bagiku. Bayangkan saja, di tahun terakhir ini aku harus mulai memikirkan UN,
mengulang seluruh materi-materi yang pernah kupelajari dua tahun sebelumnya dan
juga memikirkan kemana selanjutnya aku kuliah. Dari semua pikiran menyibukkan
itu, tentu pikiran tentang akan melanjutkan kemana yang membuatku pusing tujuh
keliling.
Sejak awal kelas dua sebenarnya orangtuaku sudah menyarankan
agar aku melanjutkan kuliah di STAN atau Sekolah Tinggi Akuntansi Negara
mengikuti jejak kakak permpuanku yang sudah lebih dulu kuliah di sana. Aku juga
tak keberatan karena kuliah di STAN merupakan mimpiku dari kelas satu SMA. Setelah
dipikir-pikir, saat itu aku tak tahu
pasti kenapa aku pengen banget kuliah di situ. Rasanya ya cuma pengen aja.
Alhasil, sejak awal tahun ajaran baru kelas tiga aku sudah menenteng buku
latihan USM STAN yang dibelikan kakakku. Aku waktu itu merencanakan untuk mulai
latihan mengerjakan soal setidaknya sekali dalam seminggu. Ya, namanya juga
rencana doang dan kesibukan-kesibukan kelas tiga yang banyak, aku nggak bisa
memenuhi rencana itu.
Seiring berjalannya waktu, aku juga mulai memikirkan rencana
cadangan jika aku tidak lolos dalam USM STAN di kemudian hari. Itu artinya, aku
tidak hanya harus mempersiapkan diri buat USM STAN, melainkan juga tes SBMPTN
dan Ujian Mandiri PTN lainnya. Belum lagi, saat itu aku tidak lagi tertarik
dengan jurusan-jurusan yang sesuai dengan kelas yang kuambil saat SMA, yaitu
MIPA. Aku lebih tertarik untuk lintas jurusan ke soshum karena merasa tertekan
dengan pelajaran yang ada di MIPA.
Tentu saja sebelum memantapkan hati untuk
lintas jurusan, aku berkonsultasi dengan banyak orang dan membaca berbagai
referensi tentang memilih jurusan. Di saat aku sedang mencari ilham itulah, aku
yang sudah mengikuti berbagai sosial media Zenius karena banyaknya review
positif tentang platform tersebut, menemukan sebuah artikel menarik tentang cara memilih jurusan.![]() |
Menarik banget kan? Setelah itu, entah kenapa aku menjadi
sangat tertarik dengan Zenius Education. Aku membaca hampir seluruh artikel
yang diterbitkan Zenius dan mendapat banyak sekali motivasi untuk terus
berjuang keras demi apa yang aku inginkan. Dari blog itu, aku juga membenahi
cara belajarku. Jujur, aku ini orangnya adalah tipe penghapal pelajaran apalagi
pelajaran yang banyak bacaannya seperti PKN, fisika, dan biologi. Namun,
semenjak membaca banyak artikel tentang konsep di Zenius, aku mulai mengubah
cara belajarku.
Awal semester dua, aku membujuk orangtuaku agar aku
diperbolehkan membeli voucher zenius untuk tiga bulan. Saat itu, orangtuaku
terlebih bapakku menentangnya. Alasan beliau waktu itu adalah kuota internet
yang akan terkuras habis karena belajar melalui internet sementara beliau tidak
mau aku terlalu boros. Namun, setelah aku menunjukkan screenshot tweet Zenius Education
bahwa satu video hanya memakan kuota sebesar 3-30 MB, barulah beliau setuju.
Maka, dimulailah revolusi belajarku dengan Zenius Education.
Tujuan utamaku belajar dengan zenius adalah untuk mempersiapkan SBMPTN yang sebagian
besar materinya tak pernah kupelajari. Bayangkan saja, darimana aku mendapat
materi Sosiologi dan Geografi sementara aku memilih jurusan MIPA? Untung saja
aku memilih lintas minat Ekonomi dan sempat beberapa kali mengikuti lomba yang
berkaitan dengan ekonomi sehingga pelajaran itu dapat kepelajari belakangan.
Aku sadar, baru belajar di awal semester dua untuk persiapan
SBMPTN lintasjurusan adalah sesuatu yang sangat terlambat. Oleh karena itu, aku
mengikuti saran dari sebuah artikel dizenius untuk mengatur jam belajarku. Pagi sampai siang aku belajar seperti
biasa di sekolah, kemudian sore sampai malam aku belajar untuk SBMPTN sehabis
makan malam, aku belajar buat UN sampai jam sepuluh dan setelah itu belajar
untuk USM STAN.
Materi pertama yang kupelajari buat SBMPTN adalah Sosiologi.
Dari dulu, aku beranggapan bahwa Sosiologi adalah pelajaran hapalan yang
membosankan dan penuh teori. Namun, semenjak belajar dengan Bang Pio aku sadar
bahwa sosiologi tak perlu dihapal, tapi dipahami dan dilogikakan. Aku juga
merasa sangat enjoy mendengar
penjelasan Bang Pio yang praktis dan mudah diingat. Alhasil, selama satu minggu
penuh aku menuntaskan semua video materi sosiologi tanpa sisa. Selama itulah,
aku juga berusaha mengerjakan soal-soal TPA USM STAN yang bikin pusing tujuh
keliling. Jujur, kalo dilihat sekilas, materi matematika di TPA USM STAN
kebanyakan adalah pelajaran SMP yang keliatannya gampang untuk dikerjakan. Tapi
pas sudah dicoba.. beuh, pusing euy. Mana caranya muter-muter. Belum lagi
bagian sinonim-antonim yang kata-katanya jarang sekali digunakan dalam
kehidupan sehari-hari. Untukmenyiasati ketidaktahuanku akan arti kata dari
bahasa sendiri, aku mencatat setiap kata baru yang kutemukan dalam notebook kecil dan membacanya ketika waktu
luang atau sebelum tidur.
Memang pusing dan ribet banget sih ketika kita harus
mempersiapkan dua bahkan tiga hal (UN, SBMPTN, USM STAN) sekaligus demi masa
depan. Tapi, belajar untuk mempersiapkan SBMPTN dan USM STAN dalam satu waktu
ada untungnya juga loh. Istilahnya, sekali dayung dua-tiga pulau terlampaui.
Materi USM STAN kan hanya TPA (Tes Potensi Akademik) dan TBI (Tes Bahasa Inggris) yang mana kedua
materi itu juga diujikan dalam SBMPTN. Jadi singkatnya, kalo kamu bisa
mengerjakan soal-soal TPA dan TBI STAN,kamu pasti bisa mengerjakan soal TPA dan
Bahasa Inggris SBMPTN. Secara, soal USM STAN berkali lipat lebih susah
dibanding soal dengan konteks yang sama di SBMPTN. Apalagi soal TBI-nya!
Pertama kali, uji TO USM STAN secara mandiri hasil TBI-ku
bener-bener hancur. Jumlah antara jawaban yang salah bahkan melebihi jumlah
jawaban yang benar. Waktu itu, aku frustasi banget sama kemampuan grammar-ku yang minus. Untuk
mengatasinya, aku nggak tinggal diam aja. Aku mulai belajar grammar dari awal lagi lewat buku grammar yang udah lama kubeli tapi
jarang banget kusentuh, tanya-tanya temen sekamar (waktu SMA aku asrama), sampai
ngorek-ngorek materi Bahasa Inggris SBMPTN di website zenius. Aku juga
mempelajari bahasan soal USM STAN tahun lalu yang dibahas di Zenius. Aku waktu itu ‘all out’ banget buat belajar
bahasa inggris sampai rela nggak ikut acara tahunan yang paling dinanti di
sekolah demi belajar grammar!
Jujur, belajar grammar cuma dengan baca buku doang sama
sekali ngga bisa masuk di otak. Berkali-kali aku belajar hal yang sama tapi
masih ngga ngerti juga. Untunglah aku ketemu video materi Kak Donnita yang enak
banget beliau ngajarin grammar-nya.
Sampai kadang aku merasa kayak bodoh banget dari dulu ngga ngerti-ngerti bedain
past perfect sama present perfect tapi pas udah nonton video Kak Donnita semua itu jadi terasa
ngga susah. Kedengarannya alay ya, tapi itulah kenyataanya. Bagiku, mentor
favorit di zenius itu Kak Donnita. Thanks
ya kak, you helped me a lot that time.
Menjelang bulan April, aku mengurangi frekuensi belajar buat
SBM dan USM untuk lebih fokus sama UN. Tapi, mengurangi bukan berarti tidak
sama sekali lo. Kadang, kalo aku jenuh pas ngerjain soal latihan UN Kimia atau
Biologi aku buka-buka materi SBM Soshum buat selingan. Aneh banget kan, materi
kayak gitu kok jadi selingan? Tapi efektif juga loh buat mengefisienkan waktu.
Selesai UN, aku ambil waktu bentar buat istirahat belajar
sampai pertengahan bulan April. Habis itu, baru aku mulai belajar lagi. Kali
ini, orangtuaku menyuruhku untuk fokus ke USM STAN saja dan berharap pada
SNMPTN. Waktu itu aku galau banget sama perintah orangtuaku. Kalau aku
merelakan nggak belajar buat SBMPTN dan malah bergantung pada SNMPTN yang
peluangnya kecil, apa jadinya jika hasil SNMPTN dan USM nantinya nggak sesuai
harapan? Tapi, Alhamdulillah Allah telah mengatur rezeki untuk setiap
hamba-Nya. Aku keterima SNMPTN di Akuntansi UNDIP, pilihan pertamaku. Aku
senang luar biasa. Itu artinya, aku ngga perlu khawatir lagi dengan SBMPTN dan
mulai fokus ke USM STAN yang waktunya tinggal seminggu lagi.
Seminggu terakhir menjelang USM, aku benar-benar fokus
belajar. Setiap hari, aku mengadakan Try
Out mandiri untuk memperkirakan waktu serta menyusun strategi. Aku sadar,
yang terpenting dalam mengerjakan soal USM adalah bagaimana caramu menjawab
soal sebanyak-banyaknya dan sebenar-benarnya. That means, you dont need to answer all of the questions. Kamu cuma
harus menjawab soal yang paling kamu bisa dengan sebaik-baiknya dan jangan sampai
salah. Strategiku waktu itu, lewati soal yang pakai cara ribet dan jangan
menjawab soal kalo ngga tau apa jawaban pastinya karena kemungkinan salahnya
50%. Aku bahkan ngga pernah serius menjawab soal yang bagian menebak gambar
selanjutnya dari beberapa gambar yang telah diurutkan. Bagiku, soal seperti itu
adalah yang tersusah dan menghabiskan terlalu banyak waktu untuk berpikir.
Selain belajar dengan giat, ibadah dengan giatnya juga nggak dilupakan karena
usaha tanpa doa sama aja bohong.
Hingga akhirnya, tibalah hari pertempuran tanggal 15 Mei.
Jeng..jeng..jeng..aku deg-degan banget waktu masuk tempat ujian dan ngeliat
ratusan anak lain juga berjuang buat lulus di tahap pertama ini. Sambil
komat-kamit berdoa supaya dimudahkan, aku memantapkan hati untuk tidak gugup.
Ketika tes dimulai, aku terkejut dengan ketiadaan jam di kelas tempat aku
ujian. Itu artinya, aku ngga bisa memperkirakan waktu. Guguplah aku.
Selesai ujian dan keluar dari kelas, aku tertunduk lemas.
Jujur, soalnya susah dan karena ngga ada jam di ruangan serta ngga boleh
memakai jam, aku jadi kelabakan di menit-menit terakhir. Aku cuma bisa jawab 66
soal TPA. Padahal targetku mengerjakan 80 soal untuk bisa lolos dari nilai mati
dan dapat nilai tinggi. Mana soal TBI-nya susah banget lagi. Ngomong-ngomong
soal nilai mati, mungkin masih ada yang bingung apa sih sebenarnya arti dari
nilai mati itu? Jadi, nilai mati adalah
sejenis passing grade dimana nilainya yaitu 1/3 dari setiap bagian soal.
Ibaratnya, kita harus bisa menyelesaikan dengan benar dan tepat lebih dari 1/3
soal TPA dan TBI untuk bisa lulus di tahap pertama. Karena soal TPA ada 120 dan
soal TBI ada 90, maka kita ‘cuma’
harus menjawab 40 soal TPA dan 30 soal TBI dengan benar. Eits, tapi jangan
senang dulu. Dengan hanya lolos nilai mati itu nggak cukup loh karena kita
tidak tahu pasti berapa jumlah yang diambil untuk lolos ke tahap selanjutnya.
Oleh karena itu, kerjakanlah soal dengan benar dan tepat sebanyak-banyaknya
yang kamu bisa agar dapat nilai yang tinggi.
Untuk melihat bagaimana sulitnya soal USM tahun ini, kamu
bisa mengklik link di sini.
Sebenarnya, saking merasa sulitnya soal USM tahun ini, aku
ingin sekali meremas kertas BPU-ku (Bukti Peserta Ujian) setelah sampai rumah.
Aku pesimis bisa lolos ke tahap selanjutnya walaupun aku sudah mengusahakan
yang terbaik. Yang bisa kulakukan selama menunggu hasil tahap pertama keluar
hanya berdoa dan berdoa semoga diberikan hasil terbaik yang kuinginkan. Hingga
akhirnya tanggal 25, tanggal pengumuman ujian tahap pertama, tiba. Aku yang
sengaja bangun agak siang waktu itu terpaksa bangun ketika mendengar dering
nada sms masuk. Ternyata dari kakakku dan you
know, dia memberitahuku kalau aku...
LULUS TAHAP PERTAMAA..!!!
Betapa bahagia dan terharunya aku karena setelah
perjuanganku belajar selama beberapa bulan tidak mengkhianati hasil. Dengan
setengah mengantuk dan setengah tidak percaya, aku langsung membuka website PKN
STAN dan melihat namaku dengan mata kepala sendiri. Aku tak henti-hentinya
berterimakasih pada Allah sembari mensyukuri pada waktu setelah ujian kemarin,
aku tidak jadi meremas kertas BPU-ku.
![]() |
| Persentase Kelulusan Ujian Tahap Pertama USM PKN STAN 2016 https://www.facebook.com/usmpknstan2017/photos/pb.491050424408561.-2207520000.1469164990./549415331905403/?type=3&theater |
Untuk semua yang sudah membantuku, orangtuaku, kakakku yang
bersedia menjawab pertanyaan soal-soal TPA di antara waktu kuliah, Kak Regina
yang udah ngebantu masalah TBI-ku, Kak Donnita selaku Tutor Bahasa Inggris
Zenius yang udah membuatku tidak lagi menyerah untuk belajar grammar, teman-temanku, makasih banyak.
Tanpa kalian aku nggak akan bisa ada di titik ini. Dan untuk para pejuang USM
STAN 2017, mulailah latihan sejak dini. Jangan pernah berhenti untuk berjuang
dan belajar. Bermimpilah setinggi langit, guys.
Karena percayalah, ketika nanti kamu jatuh, setidaknya kamu jatuh di antara
bintang-bintang.
Ps: pengalamanku yang ujian tahap kedua dan ketiga bakal aku
post di postingan selanjutnya ya. Terlalu panjang kalau di sini.





5 komentar:
mntp kk ceritanya
Terus itu snmptnnya dicabut dong kak?
Bner" menginspirasi!!!! jadi makin yakin buat beli paket Voucher nya Zenius, daritadi aku bingung untuk pake Les Online apa...
Nilai un nya dipakai ga kak?
Ig nya dong kak
Posting Komentar