Senin, 12 Agustus 2013

[ESAI] Minat Baca Masyarakat Indonesia



Sebagai negara berpenduduk terbanyak keempat di dunia, Indonesia sarat akan permasalahan. Dari dulu hingga sekarang, permasalahan yang tak pernah tuntas adalah soal pendidikan dan angka buta huruf yang masih tinggi. Bagaimanapun pemerintah berusaha mengatasinya. Hal ini tak lain dan tak bukan juga dipengaruhi oleh minat masyarakat terhadap membaca yang masih rendah. Sebagian orang mungkin percaya, tingginya kualitas suatu bangsa sama seperti tingginya minat baca penduduk di negara tersebut. Semakin tinggi minat bacanya, semakin tinggi pula kualitasnya. Semakin rendah kualitas bangsanya, maka rendah pula minat bacanya. Bagaimana suatu bangsa bisa maju kualitas dan pendidikannya apabila bangsa itu sendiri tak gemar membaca? Membaca dapat membuka dan memperluas wawasan kitaakan pentingnya sebuah bacaan. Dari sebuah bacaan, kita dapat menemukan berbagai macam hal positif yang negatif sehingga dapat membentuk kesadaran moral dan emosional sejak dini. Pentingnya membaca buku ini juga disampaikan oleh Bung Hatta, membaca buku membentuk watak bangsa. Kenapa?karena watak bangsa itu sendiri dipengaruhi oleh watak masing-masing individu yang terlibat langsung dan tidak langsung di dalamnya. Untuk bisa menjadi individu yang mempunyai pribadi baik, tak bisa didapat begitu saja. Perlu usaha, dan usaha pertama yang bisa dilakukan dapat dimulai dari membaca. Membaca bukan hanya untuk mendapatkan pengetahuan atau sekedar tahu saja. Membaca juga bisa membentuk karakter individu menjadi lebih dewasa.
Dari sebuah buku pula, pikiran-pikiran besar lahir di dunia. Bahkan orang-orang besar pun lahir dari orang yang gemar membaca. Tak bisa dibayangkan betapa besarnya manfaat dari membaca sebuah buku. Membaca sebuah buku bagaikan membuka pintu dan jendela dunia. Setiap lembar yang kita buka dapat diartikan membuka setiap lapis tirai yang menutupi luasnya dunia.
Sayangnya, masyarakat Indonesia bukanlah termasuk masyarakat yang gemar membaca. Membaca masih dianggap remeh oleh sebagian besar masyarakat yanglebih mengutamakan menonton televisi, mendengarkan radio, ataupun bermain dengan gadget canggih. Padahal hal itulah yang membuat bangsa kita sulit sekali untuk maju. Terbukti berdasarkan laporan Bank Dunia, Indonesia menduduki peringkat terendah dalam soal minat baca. Hanya sekitar 0.01%. Itu berarti, hanya satu dari 10,000 orang yang memiliki keinginan untuk membaca. Jumlah itu jauh lebih kecil ketimbang negara Singapura yang mencapai angka 45% dan Jepang yang bahkan bisa mencapai 55%. Hal itu sangat disayangkan mengingat Indonesia merupakan negara besar yang mempunyai potensi untuk lebih unggul dengan jumlah penduduk rata-rata lebih banyak dari negara lain.
Selain itu, kemiskinan, buta huruf, kemalasan, arus globalisasi yang mengalihkan kegiatan membaca, dan sejuta alasan lainnya yang tak akan bisa diselesaikan pemerintah dalam mengatasi rendahnya minat baca masyarakat dalam waktu singkat. Terbukti pada tahun 2012, Indonesia menduduki peringkat 124 dari 187 negara di dunia dalam penilaian Indeks Pembangunan Manusia, khususnya yang paling utama disorot adalah kebutuhan dasar penduduk tak terkecuali pendidikan, melek huruf, dan kesehatan. Walaupun saat ini pemerintah telah berusaha menjalankan perpustakaan-perpustakaan keliling dan pembukaan perpustakaan baru di daerah terpencil, tetapi hal itu hanya membantu sedikit saja untuk meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia.
Adapun masyarakat yang gemar membaca namun bermoral rendah. Contoh masyarakat yang seperti itu hanya membaca untuk memuaskan nafsu pribadi dan biasanya membaca bacaan yang mengarah kepada pornografi dan tidak membawa manfaat sedikitpun. Hal ini menandakan lemahnya pengawasan pemerintah terhadap keluar masuknya buku yang beredar di masyarakat. Meskipun membaca sejak dini dapat mempengaruhi karakter akan baik dan buruknya seorang individu di masa yang akan datang, namun apabila tidak didukung dengan pengawasan dari orangtua dan pemerintah yang selektif tentang baik buruknya buku, hal itu akan sia-sia. Arus globalisasi yang juga terus memaksa masuk juga membuat kita mau tak mau harus menerima apabila tak ingin dibilang ‘kurang update’. Tak jarang, persoalan inilah yang diterima mentah-mentah luarnya oleh anak bangsa yang belum bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
Oleh karena itu, permasalahan di atas perlu disiasati dengan cerdik oleh para generasi muda calon pemimpin bangsa. Selain itu, pembangunan perpustakaan yang bertaraf internasional di daerah juga perlu untuk meningkatkan minat baca masyarakat di daerah. Bukan hanya fasilitas saja yang diutamakan, namun kesediaan banyaknya buku juga perlu dipertimbangkan. Karena pembentukan sumber daya manusia unggul dimulai dari membaca buku dan karena sumber daya manusia yang baik dapat pula menjadi modal utama pembangunan dan persiapan untuk menghadapi dunia globalisasi yang penuh dengan persoalan.
Nama: Zulfa Salsabila—X-MIPA-E—

0 komentar:

Posting Komentar