Sebagai
negara berpenduduk terbanyak keempat di dunia, Indonesia sarat akan
permasalahan. Dari dulu hingga sekarang, permasalahan yang tak pernah tuntas
adalah soal pendidikan dan angka buta huruf yang masih tinggi. Bagaimanapun
pemerintah berusaha mengatasinya. Hal ini tak lain dan tak bukan juga
dipengaruhi oleh minat masyarakat terhadap membaca yang masih rendah. Sebagian
orang mungkin percaya, tingginya kualitas suatu bangsa sama seperti tingginya
minat baca penduduk di negara tersebut. Semakin tinggi minat bacanya, semakin
tinggi pula kualitasnya. Semakin rendah kualitas bangsanya, maka rendah pula
minat bacanya. Bagaimana suatu bangsa bisa maju kualitas dan pendidikannya
apabila bangsa itu sendiri tak gemar membaca? Membaca dapat membuka dan
memperluas wawasan kitaakan pentingnya sebuah bacaan. Dari sebuah bacaan, kita
dapat menemukan berbagai macam hal positif yang negatif sehingga dapat
membentuk kesadaran moral dan emosional sejak dini. Pentingnya membaca buku ini
juga disampaikan oleh Bung Hatta, membaca
buku membentuk watak bangsa. Kenapa?karena watak bangsa itu sendiri
dipengaruhi oleh watak masing-masing individu yang terlibat langsung dan tidak
langsung di dalamnya. Untuk bisa menjadi individu yang mempunyai pribadi baik,
tak bisa didapat begitu saja. Perlu usaha, dan usaha pertama yang bisa
dilakukan dapat dimulai dari membaca. Membaca bukan hanya untuk mendapatkan
pengetahuan atau sekedar tahu saja. Membaca juga bisa membentuk karakter
individu menjadi lebih dewasa.
Dari
sebuah buku pula, pikiran-pikiran besar lahir di dunia. Bahkan orang-orang
besar pun lahir dari orang yang gemar membaca. Tak bisa dibayangkan betapa
besarnya manfaat dari membaca sebuah buku. Membaca sebuah buku bagaikan membuka
pintu dan jendela dunia. Setiap lembar yang kita buka dapat diartikan membuka
setiap lapis tirai yang menutupi luasnya dunia.
Sayangnya,
masyarakat Indonesia bukanlah termasuk masyarakat yang gemar membaca. Membaca
masih dianggap remeh oleh sebagian besar masyarakat yanglebih mengutamakan
menonton televisi, mendengarkan radio, ataupun bermain dengan gadget canggih. Padahal hal itulah yang
membuat bangsa kita sulit sekali untuk maju. Terbukti berdasarkan laporan Bank Dunia,
Indonesia menduduki peringkat terendah dalam soal minat baca. Hanya sekitar
0.01%. Itu berarti, hanya satu dari 10,000 orang yang memiliki keinginan untuk
membaca. Jumlah itu jauh lebih kecil ketimbang negara Singapura yang mencapai
angka 45% dan Jepang yang bahkan bisa mencapai 55%. Hal itu sangat disayangkan mengingat
Indonesia merupakan negara besar yang mempunyai potensi untuk lebih unggul
dengan jumlah penduduk rata-rata lebih banyak dari negara lain.
Selain
itu, kemiskinan, buta huruf, kemalasan, arus globalisasi yang mengalihkan
kegiatan membaca, dan sejuta alasan lainnya yang tak akan bisa diselesaikan
pemerintah dalam mengatasi rendahnya minat baca masyarakat dalam waktu singkat.
Terbukti pada tahun 2012, Indonesia menduduki peringkat 124 dari 187 negara di
dunia dalam penilaian Indeks Pembangunan Manusia, khususnya yang paling utama
disorot adalah kebutuhan dasar penduduk tak terkecuali pendidikan, melek huruf,
dan kesehatan. Walaupun saat ini pemerintah telah berusaha menjalankan
perpustakaan-perpustakaan keliling dan pembukaan perpustakaan baru di daerah
terpencil, tetapi hal itu hanya membantu sedikit saja untuk meningkatkan minat
baca masyarakat Indonesia.
Adapun
masyarakat yang gemar membaca namun bermoral rendah. Contoh masyarakat yang
seperti itu hanya membaca untuk memuaskan nafsu pribadi dan biasanya membaca bacaan
yang mengarah kepada pornografi dan tidak membawa manfaat sedikitpun. Hal ini
menandakan lemahnya pengawasan pemerintah terhadap keluar masuknya buku yang
beredar di masyarakat. Meskipun membaca sejak dini dapat mempengaruhi karakter
akan baik dan buruknya seorang individu di masa yang akan datang, namun apabila
tidak didukung dengan pengawasan dari orangtua dan pemerintah yang selektif tentang
baik buruknya buku, hal itu akan sia-sia. Arus globalisasi yang juga terus
memaksa masuk juga membuat kita mau tak mau harus menerima apabila tak ingin
dibilang ‘kurang update’. Tak jarang,
persoalan inilah yang diterima mentah-mentah luarnya oleh anak bangsa yang
belum bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
Oleh
karena itu, permasalahan di atas perlu disiasati dengan cerdik oleh para
generasi muda calon pemimpin bangsa. Selain itu, pembangunan perpustakaan yang
bertaraf internasional di daerah juga perlu untuk meningkatkan minat baca
masyarakat di daerah. Bukan hanya fasilitas saja yang diutamakan, namun
kesediaan banyaknya buku juga perlu dipertimbangkan. Karena pembentukan sumber
daya manusia unggul dimulai dari membaca buku dan karena sumber daya manusia
yang baik dapat pula menjadi modal utama pembangunan dan persiapan untuk
menghadapi dunia globalisasi yang penuh dengan persoalan.



0 komentar:
Posting Komentar