Kamis, 26 Desember 2013

Indonesia Pemimpinnya Berkarakter?



            Melihat judulnya saja, mungkin Anda sebagai rakyat ingin sekali mengangguk, tetapi kenyataan yang terlihat membuat Anda lebih besar ingin menggeleng. Berkarakter bisa diartikan sebagai berkepribadian, berprilaku, berwatak, ataupun bersifat. Karakter yang saya bicarakan di sini adalah berkarakter baik yang dapat diartikan sebagai berkepribadian luhur, berwatak baik, ataupun bersifat mulia. Sedangkan, seperti yang dapat terlihat, Negara Indonesia belum bisa disebut sebagai negara dengan pemimpin berkarakter. Itu artinya Indonesia butuh pemimpin dengan prioritas yang membawa rakyatnya menuju kesejahteraan abadi. Bukannya pemimpin dengan janji-janji abadi yang membawa negara menuju kesejahteraan.
            Sekarang, lihatlah cermin kepribadian pemimpin Indonesia. Pantaskah disebut berkarakter? Tidak dan belum pantas. Sebut saja ketidaksiplinan anggota DPR. Berapa banyak wakil rakyat yang bolos sidang dan tidak tertib? Padahal mereka sebagai perwakilan rakyat dalam menyampaikan aspirasi kepada pemerintah seharusnya memikul amanah dengan baik, bukannya malah mencoreng nama sendiri dan Bangsa Indonesia khususnya. Pejabat yang terlibat korupsi dan penyuapan juga tidak dapat dibilang sedikit. Pantaslah Indonesia termasuk dalam 5 besar negara terkorup di dunia. Betapa mereka seharusnya malu dan takut pada ancaman pidana korupsi.

            Selain itu, Bangsa Indonesia seringkali terkenal dengan ketidaktepatan waktunya. Contoh saja yang terjadi pada saat acara-acara penting yang melibatkan pejabat tinggi. Siapa yang akan datang paling akhir? Tentu saja pejabat itu sendiri. Sehingga seringkali muncul pendapat“Orang penting pasti datang terlambat”.
            Karakter disiplinlah yang sekarang harus kita tegakkan karena karakter inilah yang telah hilang dalam diri Bangsa Indonesia khususnya para pemimpin. Bukan berarti pemimpin sekarang tidak ada perjuangan untuk menegakkan karakter, akan tetapi terkadang di tengah perjalanan selalu ada godaan kepentingan-kepentingan lain yang mungkin bisa mempengaruhi mereka sehingga banyak kepentingan rakyat dan bangsa yang terabaikan. Di sinilah pendidikan karakter perlu diajarkan sejak dini. dan keluarga adalah tempat untuk belajar tentang pendidikan karakter yang pertama. Di mana seorang manusia mulai menjalani hidupnya pertama kali dengan keluarga, melihat bagaimana kedua keluarga berinteraksi, berprilaku satu dengan yang lain.
            Akhir kata, sesungguhnya karakter seperti ini tidak cukup hanya dipunyai oleh sang peimimpin saja, akan tetapi anak buah dan seluruh masyarakat juga harus mempunyainya. Dengan demikian terbentuklah karakter bangsa yang utuh dan baik, yang berawal dari seorang pemimpinnya.


0 komentar:

Posting Komentar