Melihat
judulnya saja, mungkin Anda sebagai rakyat ingin sekali mengangguk, tetapi
kenyataan yang terlihat membuat Anda lebih besar ingin menggeleng. Berkarakter bisa
diartikan sebagai berkepribadian, berprilaku, berwatak, ataupun bersifat. Karakter
yang saya bicarakan di sini adalah berkarakter baik yang dapat diartikan
sebagai berkepribadian luhur, berwatak baik, ataupun bersifat mulia. Sedangkan,
seperti yang dapat terlihat, Negara Indonesia belum bisa disebut sebagai negara
dengan pemimpin berkarakter. Itu artinya Indonesia butuh pemimpin dengan
prioritas yang membawa rakyatnya menuju kesejahteraan abadi. Bukannya pemimpin
dengan janji-janji abadi yang membawa negara menuju kesejahteraan.
Sekarang,
lihatlah cermin kepribadian pemimpin Indonesia. Pantaskah disebut berkarakter?
Tidak dan belum pantas. Sebut saja ketidaksiplinan anggota DPR. Berapa banyak
wakil rakyat yang bolos sidang dan tidak tertib? Padahal mereka sebagai
perwakilan rakyat dalam menyampaikan aspirasi kepada pemerintah seharusnya
memikul amanah dengan baik, bukannya malah mencoreng nama sendiri dan Bangsa
Indonesia khususnya. Pejabat yang terlibat korupsi dan penyuapan juga tidak
dapat dibilang sedikit. Pantaslah Indonesia termasuk dalam 5 besar negara
terkorup di dunia. Betapa mereka seharusnya malu dan takut pada ancaman pidana
korupsi.
Selain
itu, Bangsa Indonesia seringkali terkenal dengan ketidaktepatan waktunya.
Contoh saja yang terjadi pada saat acara-acara penting yang melibatkan pejabat
tinggi. Siapa yang akan datang paling akhir? Tentu saja pejabat itu sendiri.
Sehingga seringkali muncul pendapat“Orang penting pasti datang terlambat”.
Karakter
disiplinlah yang sekarang harus kita tegakkan karena karakter inilah yang telah
hilang dalam diri Bangsa Indonesia khususnya para pemimpin. Bukan berarti
pemimpin sekarang tidak ada perjuangan untuk menegakkan karakter, akan tetapi
terkadang di tengah perjalanan selalu ada godaan kepentingan-kepentingan lain
yang mungkin bisa mempengaruhi mereka sehingga banyak kepentingan rakyat dan
bangsa yang terabaikan. Di sinilah pendidikan karakter perlu diajarkan sejak
dini. dan keluarga adalah tempat untuk belajar tentang pendidikan karakter yang
pertama. Di mana seorang manusia mulai menjalani hidupnya pertama kali dengan
keluarga, melihat bagaimana kedua keluarga berinteraksi, berprilaku satu dengan
yang lain.
Akhir
kata, sesungguhnya karakter seperti ini tidak cukup hanya dipunyai oleh sang
peimimpin saja, akan tetapi anak buah dan seluruh masyarakat juga harus
mempunyainya. Dengan demikian terbentuklah karakter bangsa yang utuh dan baik,
yang berawal dari seorang pemimpinnya.



0 komentar:
Posting Komentar