Sabtu, 12 Juli 2014

Laporan Kegiatan Bulan Ramadhan (4): Belajar Yokk!

12-07-2014

Hari ini saking nggak ada kerjaannya, saya memutuskan untuk belajar. Yah.. nyicil dikit lah buat ikut seleksi lomba nanti. Rencananya, di kelas 2 nanti saya ingin mengikuti beberapa lomba seperti Olimpiade Pasar Modal, Olimpiade Akuntansi Nasional, dll. Tentu saja untuk ikut itu harus melalui seleksi dulu dari sekolah. Nah, hari ini saya belajar tentang bagaimana caranya membeli saham di Bursa Efek. Caranyaa...

Pertama, investor atau orang perorang, perusahaan atau badan usaha harus menghubungi perusahaan sekuritas atau biasa disebut pialang untuk membuka rekening saham atas nama investor. Rekening saham ini sama seperti rekening tabungan yang dibuat di bank. Bedanya, rekening saham dibuat untuk dipergunakan untuk menjual dan membeli saham.  Di Indonesia sendiri ada cukup banyak perusahaan sekuritas, contohnya SinarMas Sekuritas. Pialang ini bisa dikatakan sebagai perantara antara investor dengan emiten atau perusahaan publik yang mengeluarkan saham.

Laporan Kegiatan Bulan Ramadhan (3): Jalan-Jalan Pagi

11-07-2014

Kegiatan yang hari ini saya lakukan sebenarnya tak ada yang begitu berarti kecuali tadi pagi. Yap, saya dan kedua adik saya berjalan-jalan pagi (kali  ini memakai kaki) untuk mencari 2 hal. Yang pertama, mencari TK adik saya yang paling kecil yang katanya sih tidak terlalu jauh dari rumah dan yang kedua, mencari keringat. Kenapa keringat dicari?
Karena di sini adalah wilayah yang sangat dingin dan saya jarang sekali mengeluarkan keringat. Bahkan, sore sebelumnya saya juga melakukan JJS alias Jalan-Jalan Sore untuk mencari keringat juga. Tapi, setelah berjalan sekian jauh, bukan keringat yang saya dapatkan melainkan saya merasa kedinginan. Bayangkan jika saya melakukan hal itu di Samarinda, pastilah baju saya sudah basah oleh keringat.
Oke, back to topic, saya mulai melakukan jalan-jalan pagi sekitar jam 9 ketika matahari mulai bersinar hangat. Jalanan yang kami lalui adalah jalanan beraspal menurun yang agak curam. Sepanjang jalan, tepatnya di kanan kiri jalan banyak terdapat perkebunan. Maklum, penduduk di sini mata pencaharian utamanya adalah petani kebun. Dan perkebunan yang pertama kali saya lewati adalah perkebunan salak pondoh yang banya sekali terdapat di dusun ini. Perkebunan salak itu luas sekali dan tertata rapi.
Selanjutnya, di kanan jalan saya melihat perkebunan bunga yang asri dimana bunga-bunga tersebut ditanam di dalam poly bag dan dilindungi dengan atap plastik. Ketika saya melewati perkebunn bunga tersebut, terciumlah aroma semerbak bunga yang harum sekali. Tapi, saya kurang tahu apa nama bunganya pokoknya bunganya harum dan warnanya bermacam-macam. Ada putih, kuning, ungu,merah dan sebagainya. Di samping perkebunan bunga itu saya melihat uhmm sejenis pemandian umum dengan jamban terbuka. Di pemandian umum tersebut terdapat tiga pipa dan masing-masing mengeluarkan air jernih yang sangat deras hingga meluber kemana-mana. Tentu saja itu bukan pemborosan karena air di sini gratis dan melimpah serta berasal dari mata air Pegunungan Ungaran yang mengelilingi kabupaten ini.
Kami terus berjalan menuruni jalan tururnan yang curam tersebut hingga akhirnya sampailah di sebuah kelokan, lalu berbelok di situ. Di belokan tersebut jika kita terus berjalan maka akan bertemu dengan gang yang pertama dan ternyata di situlah TK adik saya berada. Tk tersebut cukup bagus. Gedungnya berwarna hijau dan tingkat tiga karena digabung dengan MTs dan di samping gedung tersebut terdapat masjid serta beberapa mainan yang biasa ada di TK.
Setelah puas berkeliling, kami pun pulang dengan jalan yang sama namun harus mengeluarkan tenaga dua kali lebih besar karena jalannya  sekarang menanjak dan pada saat itulah saya menyadari bahwa saya... 
Telah Berkeringat! Yeeaay!
Dan akhirnya dua tujuan dari JJP alias Jalan-Jalan Pagi tercapai. Alhamdulillah ya...


^^ @zulfasalsa

Jumat, 11 Juli 2014

Laporan Kegiatan Bulan Ramadhan (2): Jalan-Jalan Keluar Dusun

Minggu, 6 Juli 2014
Hari minggu telah tiba dan akhirnya saya punya kesempatan untuk keluar dari dusun dan berjalan-jalan alias pergi ke Alfamart menggunakan sepeda motor. Ini adalah kali pertama saya pergi jauh dari rumah yang baru. Saya pergi bersama adik saya (laki-laki) yang berperan sebagai penunjuk jalan. Saya cukup kesal awalnya karena dia memberikan petunjuk yang salah sehingga akhirnya saya harus berputar cukup jauh.harusnya belok kiri tapi dia bilang belok kanan.ckck -_____-
Jadi, daripada anda menjadi pengemudi tidak jelas dan ugal-ugalan seperti saya, berikut saya berikan tips-tips berkendara motor dengan aman.

Laporan Kegiatan Bulan Ramadhan (1): Pindah.. Pindah..

Hari pertama saya dan keluarga saya berpuasa adalah hari Sabtu, 28 Juni 2014. Aktivitas di bulan ramadhan saya pada tahun ini hanya berjalan satu hari saja di Samarinda. Menurut saya, hari pertama puasa itu adalah hari tersedih yang ada dalam hidup saya—karena besok saya dan keluarga saya akan pindah rumah ke semarang—. Pada hari itu, saya melihat rumah saya telah dikosongkan. Semua bagian rumah telah dibersihkan dan semua isi lemari, barang-barang berharga, buku yang sekiranya masih dapat dipakai dibungkus dalam tas-tas besar dan kardus-kardus yang jumlah semuanya mugkin lebih dari sepuluh. Ketika saya berdiri di depan kamar saya, banyak bayangan yang terlintas di hadapan saya. Bayangan tentang diri saya ketika belajar keras, bayangan ketika saya dan keluarga saya bersama-sama menonton televisi yang hanya terdapat di kamar saya, juga bayangan saya ketika saya menangis akibat suatu hal yang tidak bisa saya atasi. Dulunya kamar saya selalu penuh oleh barang-barang yang kadang tak berguna namun sayang untuk di buang. Tapi, sekarang kamar itu terasa sangat kosong. Bahkan meja belajar saya yang biasanya tertumpuk berantakan buku sudah dipindahkan ke bagian rumah yang lain.
Sorenya, banyak tetangga datang memberikan salam perpisahan karena besok saya dan keluarga saya akan berangkat setelah sahur menuju balikpapan dan  kemudian saya berbincang dengan teman sepermainan saya dulu. Kami memang sudah tidak begitu akrab lagi karena aktivitas sekolah yang membuat kami sibuk hingga jarang bertemu lagi. Namun, berbincang lagi dengannya terasa sangat menyenangkan dan ini adalah sesuatu yang jarang saya lakukan.
Esokya, kami sekeluarga berangkat setelah sahur dan semua barang telah dimasukkan ke dalam bagasi mobil. Karena tidak muat, beberapa kardus masih ditinggalkan dan nantinya akan dikirim lewat pos atau ekspedisi. Saatnya pergi pun tiba. Setelah berpamitan pada beberapa tetangga yang menyempatkan diri untuk keluar, mobil pun mulai berjalan pergi meniggalkan rumah yang selama lebih dari 10 tahun telah menjadi tempat perlidungan bagi saya.
Tiba di balikpapan, tujuan pertama bukanlah bandara melainkan SMKN 3 Balikpapan karena kakak saya akan mengikuti ujian saringan masuk STAN. Dia akan menyusul ke Jogjakarta dengan penerbangan sore. Karena masih agak lama waktu untuk check-in maka saya, bapak, dan adik memilih berjalan-jalan terlebih dahulu di bandara baru dengan konsep seperti mall ini. Saya terpukau dengan desainnya yang modern dan mewah. Berbeda dengan bandara sebelumnya yang menurut saya itu terlalu kecil sehingga terkadang terjadi penumpukan penumpang. Namun, di bandara baru ini berbeda. Semuanya di desain nyaman dan bebas full of  loaded. 
Kekaguman saya bertambah ketika memasuki ruang tunggu dan menyaksikan betapa luasnya ruang tunggu tersebut sampai-sampai saya merasa tak kuat karena saya mendapat Pintu Keberangkatan 10 atau G10 yang merupakan gate kedua sebelum terakhir dan berarti itu sangaaaaaaaaat jauh sekali dan saya memikul tas ransel yang super berat. Saya mengeluh dalam hati berharap agar cepat sampai di G10.
Keberangkatan pun tiba. Sebelum pesawat belum benar-benar take-off saya memandang bandara sekali lagi dan berharap bahwa kepindahan ini memang adalah keputusan yang terbaik. TT_TT.
Sekitar satu setengah jam kemudian, pesawat akhirnya tiba dengan selamat di Bandara Adisutjipto. Saya sedikit terharu saat melihat tulisan “Welcome to Jogjakarta” karena akhirnya saya bisa menginjakkan kaki kembali di ‘Kota Pendidikan’ ini setelah 4 tahun. Sembari menunggu bagasi dikeluarkan, saya pergi ke kamar kecil dan ketika keluar dari wc saya bertemu  om-om yang lagi menelpon masuk ke toilet wanita. Awalnya saya pikir saya yang salah masuk, tapi melihat tanda di depan toilet, saya menyimpulkan orang itulah yang salah masuk. Saya geleng-geleng kepala sendiri. Pasti om-om itu terlalu asyik telponan sehingga salah masuk toilet dan bergeming saja saat melihat saya berada di depan westafel toilet tersebut. Ckck -__________-
Keluar dari pintu kedatangan, kami di sambut dengan para supir taksi yang mencari penumpang. Mereka menyapa dengan ramah dan menawarkan, “Taksi, mbak?”
Dengan sopan saya menggeleng dan berusaha melewati uhmm mungkin ada sekitar belasan supir taksi lain yang menawarkan jasa yang sama. Keramahtamahan suku jawa inilah yang menurut saya membedakan suku ini dengan suku yang lain.
Saya dan keluarga saya akhirnya memutuskan untuk singgah sebentar di rumah salah satu keluarga yang berada di Jogja sembari menunggu pesawat kakak saya yang baru akan tiba sekitar jam setengah delapan malam.
Pukul sebelas lebih, kami benar-benar baru sampai di rumah yang baru alias di Bandungan, Kabupaten Semarang dan ternyata di rumah itu telah  menunggu keluarga besar, ketua RT dan beberapa warga sekitar yang katanya mau mengadakan selamatan. Weleh. Saya bergumam, padahal ini sudah larut malam tapi mereka masih aja mau mengadakan selamatan. Saya berpikir lagi. Hal inilah yang selamanya tidak akan pernah saya temukan di kota besar. Keakraban, rasa kekeluargaan, dan keramahan.
Di tengah hembusan dingin angin malam Kabupaten Semarang, saya merasakan kehangatan di tempat yang baru dan mungkin kepindahan ini tidak akan saya sesali nantinya.


 ~@zulfasalsa~

Selasa, 08 Juli 2014

[RISET PROJECT] Petasan; Antara Tradisi dan Budaya di Bulan Ramadhan

Siapa yang tak kenal petasan? Suaranya yang keras dan bentuknya yang bervariasi tentu saja membuat semua orang mengenalinya. Entah di luar negeri maupun di Indonesia sendiri. Di luar negeri petasan umumnya dipakai ketika perayaan hari besar atau event-event tertentu. Seperti, pembukaan acara karnaval, tahun baru, dan lain-lain. Sedangkan, di Indonesia petasan lebih sering atau marak di gunakan pada saat Bulan Ramadhan.
Sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan petasan? Petasan atau biasa dikenal sebagai mercon adalah bubuk yang dibungkus dengan beberapa lapis kertas, diberi sumbu, dan berdaya ledak rendah. Nah, pada saat Bulan Ramadhan ini, petasan banyak digunakan untuk meramaikan suasana. Apalagi di dusun tempat penulis tinggal saat ini, tak ketinggalan satu malam pun tanpa yang namanya bunyi ledakan petasan. Entah itu dalam frekuensi bunyi rendah maupun tinggi. Terkadang memang mengagetkan. Namun, inilah kebiasaan warga dusun yang selajutnya membuat penulis ingin mengetahui apakah meledakkan petasan di Bulan Ramadhan termasuk tradisi atau budaya Indonesia.
Akan tetapi, sebelum membahas hal itu lebih lanjut, alangkah baiknya jika kita terlebih dahulu mengetahui apa yang di maksud dengan tradisi dan apa yang dimaksud dengan budaya agar tidak terjadi kesalahan persepsi di antara para pembaca.

COMING SOON..

1. Riset Project: [Esai] Petasan; Antara Tradisi dan Budaya di Bulan Ramadhan
2. Laporan Kegiatan Bulan Ramadhan(1)

Rabu, 02 Juli 2014

Dari Pemuda, Oleh Pemuda, Untuk Indonesia

Haihaihai
Liburan ini saatnya meng-update blog! yeeeeaay! Nah, kali ini saya akan posting esai yang beberapa bulan lalu saya ikutkan lomba*tapigakmenang*
Oke.. Langsung ajaaa
-----

Sejak dahulu kala, sudah banyak yang membayangkan adanya suatu sistem politik yang di dalamnya para anggotanya saling menganggap sama secara politik, sama-sama berdaulat, memiliki segala kemampuan, dan lembaga-lembaga yang mereka perlukan untuk memerintah diri sendiri.
Gagasan akan sistem baru ini mulai berkembang pada awal abad ke lima sebelum masehi oleh bangsa yang kecil dan bertempat tinggal di lingkup yang kecil pula. Namun, bangsa ini mempunyai pengaruh yang luar biasa besarnya terhadap sejarah dunia, yaitu Bangsa Yunani atau lebih spesifiknya Bangsa Athena. Pada saat itu, mereka telah menerapkan sistem politik yang ratusan hingga ribuan tahun kemudian telah mengalami perkembangan hingga menjadi sistem politik yang sangat kompleks seperti sekarang ini. Perlu diakui, demokrasi yang dilakukan oleh bangsa Athena dahulu sangatlah berbeda dengan apa yang kita sebut sebagai demokrasi sekarang. Pada saat itu, bangsa Athena dapat merasakan bagaimana rasanya menjadi orang-orang yang sama kedudukannya, sama-sama berdaulat dalam memerintah diri sendiri dan menjalankan jalannya roda pemerintahan.