Jumat, 11 Juli 2014

Laporan Kegiatan Bulan Ramadhan (1): Pindah.. Pindah..

Hari pertama saya dan keluarga saya berpuasa adalah hari Sabtu, 28 Juni 2014. Aktivitas di bulan ramadhan saya pada tahun ini hanya berjalan satu hari saja di Samarinda. Menurut saya, hari pertama puasa itu adalah hari tersedih yang ada dalam hidup saya—karena besok saya dan keluarga saya akan pindah rumah ke semarang—. Pada hari itu, saya melihat rumah saya telah dikosongkan. Semua bagian rumah telah dibersihkan dan semua isi lemari, barang-barang berharga, buku yang sekiranya masih dapat dipakai dibungkus dalam tas-tas besar dan kardus-kardus yang jumlah semuanya mugkin lebih dari sepuluh. Ketika saya berdiri di depan kamar saya, banyak bayangan yang terlintas di hadapan saya. Bayangan tentang diri saya ketika belajar keras, bayangan ketika saya dan keluarga saya bersama-sama menonton televisi yang hanya terdapat di kamar saya, juga bayangan saya ketika saya menangis akibat suatu hal yang tidak bisa saya atasi. Dulunya kamar saya selalu penuh oleh barang-barang yang kadang tak berguna namun sayang untuk di buang. Tapi, sekarang kamar itu terasa sangat kosong. Bahkan meja belajar saya yang biasanya tertumpuk berantakan buku sudah dipindahkan ke bagian rumah yang lain.
Sorenya, banyak tetangga datang memberikan salam perpisahan karena besok saya dan keluarga saya akan berangkat setelah sahur menuju balikpapan dan  kemudian saya berbincang dengan teman sepermainan saya dulu. Kami memang sudah tidak begitu akrab lagi karena aktivitas sekolah yang membuat kami sibuk hingga jarang bertemu lagi. Namun, berbincang lagi dengannya terasa sangat menyenangkan dan ini adalah sesuatu yang jarang saya lakukan.
Esokya, kami sekeluarga berangkat setelah sahur dan semua barang telah dimasukkan ke dalam bagasi mobil. Karena tidak muat, beberapa kardus masih ditinggalkan dan nantinya akan dikirim lewat pos atau ekspedisi. Saatnya pergi pun tiba. Setelah berpamitan pada beberapa tetangga yang menyempatkan diri untuk keluar, mobil pun mulai berjalan pergi meniggalkan rumah yang selama lebih dari 10 tahun telah menjadi tempat perlidungan bagi saya.
Tiba di balikpapan, tujuan pertama bukanlah bandara melainkan SMKN 3 Balikpapan karena kakak saya akan mengikuti ujian saringan masuk STAN. Dia akan menyusul ke Jogjakarta dengan penerbangan sore. Karena masih agak lama waktu untuk check-in maka saya, bapak, dan adik memilih berjalan-jalan terlebih dahulu di bandara baru dengan konsep seperti mall ini. Saya terpukau dengan desainnya yang modern dan mewah. Berbeda dengan bandara sebelumnya yang menurut saya itu terlalu kecil sehingga terkadang terjadi penumpukan penumpang. Namun, di bandara baru ini berbeda. Semuanya di desain nyaman dan bebas full of  loaded. 
Kekaguman saya bertambah ketika memasuki ruang tunggu dan menyaksikan betapa luasnya ruang tunggu tersebut sampai-sampai saya merasa tak kuat karena saya mendapat Pintu Keberangkatan 10 atau G10 yang merupakan gate kedua sebelum terakhir dan berarti itu sangaaaaaaaaat jauh sekali dan saya memikul tas ransel yang super berat. Saya mengeluh dalam hati berharap agar cepat sampai di G10.
Keberangkatan pun tiba. Sebelum pesawat belum benar-benar take-off saya memandang bandara sekali lagi dan berharap bahwa kepindahan ini memang adalah keputusan yang terbaik. TT_TT.
Sekitar satu setengah jam kemudian, pesawat akhirnya tiba dengan selamat di Bandara Adisutjipto. Saya sedikit terharu saat melihat tulisan “Welcome to Jogjakarta” karena akhirnya saya bisa menginjakkan kaki kembali di ‘Kota Pendidikan’ ini setelah 4 tahun. Sembari menunggu bagasi dikeluarkan, saya pergi ke kamar kecil dan ketika keluar dari wc saya bertemu  om-om yang lagi menelpon masuk ke toilet wanita. Awalnya saya pikir saya yang salah masuk, tapi melihat tanda di depan toilet, saya menyimpulkan orang itulah yang salah masuk. Saya geleng-geleng kepala sendiri. Pasti om-om itu terlalu asyik telponan sehingga salah masuk toilet dan bergeming saja saat melihat saya berada di depan westafel toilet tersebut. Ckck -__________-
Keluar dari pintu kedatangan, kami di sambut dengan para supir taksi yang mencari penumpang. Mereka menyapa dengan ramah dan menawarkan, “Taksi, mbak?”
Dengan sopan saya menggeleng dan berusaha melewati uhmm mungkin ada sekitar belasan supir taksi lain yang menawarkan jasa yang sama. Keramahtamahan suku jawa inilah yang menurut saya membedakan suku ini dengan suku yang lain.
Saya dan keluarga saya akhirnya memutuskan untuk singgah sebentar di rumah salah satu keluarga yang berada di Jogja sembari menunggu pesawat kakak saya yang baru akan tiba sekitar jam setengah delapan malam.
Pukul sebelas lebih, kami benar-benar baru sampai di rumah yang baru alias di Bandungan, Kabupaten Semarang dan ternyata di rumah itu telah  menunggu keluarga besar, ketua RT dan beberapa warga sekitar yang katanya mau mengadakan selamatan. Weleh. Saya bergumam, padahal ini sudah larut malam tapi mereka masih aja mau mengadakan selamatan. Saya berpikir lagi. Hal inilah yang selamanya tidak akan pernah saya temukan di kota besar. Keakraban, rasa kekeluargaan, dan keramahan.
Di tengah hembusan dingin angin malam Kabupaten Semarang, saya merasakan kehangatan di tempat yang baru dan mungkin kepindahan ini tidak akan saya sesali nantinya.


 ~@zulfasalsa~

0 komentar:

Posting Komentar