Selasa, 08 Juli 2014

[RISET PROJECT] Petasan; Antara Tradisi dan Budaya di Bulan Ramadhan

Siapa yang tak kenal petasan? Suaranya yang keras dan bentuknya yang bervariasi tentu saja membuat semua orang mengenalinya. Entah di luar negeri maupun di Indonesia sendiri. Di luar negeri petasan umumnya dipakai ketika perayaan hari besar atau event-event tertentu. Seperti, pembukaan acara karnaval, tahun baru, dan lain-lain. Sedangkan, di Indonesia petasan lebih sering atau marak di gunakan pada saat Bulan Ramadhan.
Sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan petasan? Petasan atau biasa dikenal sebagai mercon adalah bubuk yang dibungkus dengan beberapa lapis kertas, diberi sumbu, dan berdaya ledak rendah. Nah, pada saat Bulan Ramadhan ini, petasan banyak digunakan untuk meramaikan suasana. Apalagi di dusun tempat penulis tinggal saat ini, tak ketinggalan satu malam pun tanpa yang namanya bunyi ledakan petasan. Entah itu dalam frekuensi bunyi rendah maupun tinggi. Terkadang memang mengagetkan. Namun, inilah kebiasaan warga dusun yang selajutnya membuat penulis ingin mengetahui apakah meledakkan petasan di Bulan Ramadhan termasuk tradisi atau budaya Indonesia.
Akan tetapi, sebelum membahas hal itu lebih lanjut, alangkah baiknya jika kita terlebih dahulu mengetahui apa yang di maksud dengan tradisi dan apa yang dimaksud dengan budaya agar tidak terjadi kesalahan persepsi di antara para pembaca.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, tradisi adalah adat kebiasaan turun-temurun (dari nenek moyang) yang masih dijalankan dalam masyarakat atau penilaian atau anggapan bahwa yang telah ada adalah yang paling baik dan benar. Dari pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa tradisi adalah sesuatu yang telah dan selalu dilakukan secara turun temurun sehingga akhirnya menjadi kebiasaan. Lain dengan tradisi, lain pula pengertian budaya. Budaya memiliki pengertian yang lebih kompleks, sehingga dapat disimpulkan, budaya adalah hasil cipta rasa dan karya manusia atau yang lebih lengkapnya budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni.
Lalu, apa bedanya tradisi dan budaya? Secara umum, tradisi dan budaya seringkali dicampuradukkan sehingga membuat masyarakat selama ini keliru dalam menilai. Tradisi dan budaya jelas berbeda dari segi apapun, baik pengertian, definisi, aspek, dan lain sebagainya. Budaya lahir lebih dahulu daripada tradisi. Setelah suatu budaya lahir, budaya tersebut selanjutnya diwariskan secara turun temurun pada suatu kelompok atau masyarakat, sehigga terciptalah tradisi. Tradisi sendiri merupakan bagian dari budaya dan dapat melebur dalam pegertian kebudayaan secara khusus.
Kembali lagi ke persoalan petasan yang telah dibahas sebelumya, berdasarkan pengertian dan pembahasan mengenai tradisi dan budaya di atas, dapat dikatakan bahwa petasan mempunyai kemungkinan untuk disebut sebagai budaya dan tradisi secara bersamaan. Tapi, tentu saja kita harus memilih salah satu dari kedua itu, bukan? Utuk menentukannya kita dapat menelusuri kembali asal-usul penggunaan petasan. Dulu sekali, Suku Betawilah yang pertama kali meggunakan petasan di Indonesia. Peggunaannya pun hanya sebatas untuk meramaikan suasana di pernikahan dengan meniru kebiasaan warga tioghoa yang bermukim di sekitar mereka. Penggunaan petasan kemudian berkembang hingga menjadi seperti sekarang. Hal ini menunjukkan penggunaan petasan diwariskan secara turun-temurun dan berkembang. Lalu, apakah dengan demikian kita bisa langsung meyimpulkan bahwa petasan merupakan budaya? tentu saja tidak!
Penulis menyimpulkan bahwa dulunya petasan memang adalah suatu budaya di Indonesia. Budaya tersebut dibawa, dikembangkan, dan diwariskan secara turun temurun sehingga petasan banyak digunakan terutama di bulan ramadhan. Namun, itu dulu. Zaman sekarang, petasan tak pantas lagi disebut budaya karena pengaruhnya yang buruk bagi kehidupan manusia. Budaya memang tak selamanya baik. Namun, budaya yang baik itulah yang harus kita lestarikan, sedangkan budaya yang buruk harus kita hilagkan. Jika petasan termasuk budaya yang buruk, maka seharusya peggunaan petasan itu telah lama hilang terutama di bulan ramadhan. Akan tetapi, pada beberapa kelompok masyarakat, penggunaan petasan terutama di bulan ramadhan masih dipertahakan sedemikian rupa dan digunakan hanya untuk memeriahkan datangnya bulan ramadhan yang hanya setahun sekali tanpa bermaksud untuk memperburuk kehidupan manusia.
Dalam hal ini sama seperti budaya lebaran pada saat idul fitri, lalu pada hari itu terdapat tradisi sungkeman dan silaturahmi ke sanak saudara, maka penggunaan petasan di Bulan Ramadhan digolongkan menjadi tradisi yaitu budaya puasa pada saat Bulan Ramadhan dan pada bulan itu terdapat tradisi menyalakan atau meledakkan petasan di beberapa daerah.
Dengan segala kekurangan yang dimiliki petasan tentu saja petasan banyak dilarang di beberapa daerah terutama jika mendekati Bulan Ramadhan. Namun, jika kembali ke fakta bahwa petasan adalah tradisi yang terlahir dari budaya Indonesia, maka mau tak mau kita sebagai masyarakat Indonesia harus berusaha utuk mempertahankannya agar kelak anak-cucu kita tetap dapat merasakan kemeriahan akan datangnya Bulan Ramadhan. Dengan catatan, penggunaan petasan harus digunakan dengan sebijak-bijaknya serta memperhitungkan resiko yang mungkin akan terjadi sebelum menyalakan petasan agar kita selalu ingat bahwa di balik setiap perbuatan yang kita lakukan tersimpan akibat yang nyata.
Selamat menunaikan ibadah puasa. ^^

@zulfasalsa ~~~







0 komentar:

Posting Komentar