Siapa
yang tak kenal petasan? Suaranya yang keras dan bentuknya yang bervariasi tentu
saja membuat semua orang mengenalinya. Entah di luar negeri maupun di Indonesia
sendiri. Di luar negeri petasan umumnya dipakai ketika perayaan hari besar atau
event-event tertentu. Seperti,
pembukaan acara karnaval, tahun baru, dan lain-lain. Sedangkan, di Indonesia
petasan lebih sering atau marak di gunakan pada saat Bulan Ramadhan.
Sebenarnya
apa sih yang dimaksud dengan petasan?
Petasan atau biasa dikenal sebagai mercon adalah bubuk yang dibungkus dengan
beberapa lapis kertas, diberi sumbu, dan berdaya ledak rendah. Nah, pada saat Bulan
Ramadhan ini, petasan banyak digunakan untuk meramaikan suasana. Apalagi di dusun
tempat penulis tinggal saat ini, tak ketinggalan satu malam pun tanpa yang
namanya bunyi ledakan petasan. Entah itu dalam frekuensi bunyi rendah maupun
tinggi. Terkadang memang mengagetkan. Namun, inilah kebiasaan warga dusun yang
selajutnya membuat penulis ingin mengetahui apakah meledakkan petasan di Bulan
Ramadhan termasuk tradisi atau budaya Indonesia.
Akan
tetapi, sebelum membahas hal itu lebih lanjut, alangkah baiknya jika kita
terlebih dahulu mengetahui apa yang di maksud dengan tradisi dan apa yang dimaksud
dengan budaya agar tidak terjadi kesalahan persepsi di antara para pembaca.
Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia, tradisi adalah adat kebiasaan turun-temurun (dari nenek moyang)
yang masih dijalankan dalam masyarakat atau penilaian atau anggapan bahwa yang
telah ada adalah yang paling baik dan benar. Dari pengertian tersebut, dapat
disimpulkan bahwa tradisi adalah sesuatu yang telah dan selalu dilakukan secara
turun temurun sehingga akhirnya menjadi kebiasaan. Lain dengan tradisi, lain pula
pengertian budaya. Budaya memiliki pengertian yang lebih kompleks, sehingga
dapat disimpulkan, budaya adalah hasil cipta rasa dan karya manusia atau yang
lebih lengkapnya budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang
dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke
generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk
sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas,
pakaian, bangunan, dan karya seni.
Lalu,
apa bedanya tradisi dan budaya? Secara umum, tradisi dan budaya seringkali dicampuradukkan
sehingga membuat masyarakat selama ini keliru dalam menilai. Tradisi dan budaya
jelas berbeda dari segi apapun, baik pengertian, definisi, aspek, dan lain sebagainya.
Budaya lahir lebih dahulu daripada tradisi. Setelah suatu budaya lahir, budaya
tersebut selanjutnya diwariskan secara turun temurun pada suatu kelompok atau
masyarakat, sehigga terciptalah tradisi. Tradisi sendiri merupakan bagian dari
budaya dan dapat melebur dalam pegertian kebudayaan secara khusus.
Kembali
lagi ke persoalan petasan yang telah dibahas sebelumya, berdasarkan pengertian
dan pembahasan mengenai tradisi dan budaya di atas, dapat dikatakan bahwa
petasan mempunyai kemungkinan untuk disebut sebagai budaya dan tradisi secara bersamaan.
Tapi, tentu saja kita harus memilih salah satu dari kedua itu, bukan? Utuk menentukannya
kita dapat menelusuri kembali asal-usul penggunaan petasan. Dulu sekali, Suku Betawilah
yang pertama kali meggunakan petasan di Indonesia. Peggunaannya pun hanya sebatas
untuk meramaikan suasana di pernikahan dengan meniru kebiasaan warga tioghoa yang
bermukim di sekitar mereka. Penggunaan petasan kemudian berkembang hingga menjadi
seperti sekarang. Hal ini menunjukkan penggunaan petasan diwariskan secara turun-temurun
dan berkembang. Lalu, apakah dengan demikian kita bisa langsung meyimpulkan bahwa
petasan merupakan budaya? tentu saja tidak!
Penulis
menyimpulkan bahwa dulunya petasan memang adalah suatu budaya di Indonesia. Budaya
tersebut dibawa, dikembangkan, dan diwariskan secara turun temurun sehingga
petasan banyak digunakan terutama di bulan ramadhan. Namun, itu dulu. Zaman
sekarang, petasan tak pantas lagi disebut budaya karena pengaruhnya yang buruk bagi
kehidupan manusia. Budaya memang tak selamanya baik. Namun, budaya yang baik
itulah yang harus kita lestarikan, sedangkan budaya yang buruk harus kita
hilagkan. Jika petasan termasuk budaya yang buruk, maka seharusya peggunaan
petasan itu telah lama hilang terutama di bulan ramadhan. Akan tetapi, pada beberapa
kelompok masyarakat, penggunaan petasan terutama di bulan ramadhan masih
dipertahakan sedemikian rupa dan digunakan hanya untuk memeriahkan datangnya bulan
ramadhan yang hanya setahun sekali tanpa bermaksud untuk memperburuk kehidupan
manusia.
Dalam
hal ini sama seperti budaya lebaran pada saat idul fitri, lalu pada hari itu
terdapat tradisi sungkeman dan silaturahmi ke sanak saudara, maka penggunaan
petasan di Bulan Ramadhan digolongkan menjadi tradisi yaitu budaya puasa pada
saat Bulan Ramadhan dan pada bulan itu terdapat tradisi menyalakan atau
meledakkan petasan di beberapa daerah.
Dengan
segala kekurangan yang dimiliki petasan tentu saja petasan banyak dilarang di beberapa
daerah terutama jika mendekati Bulan Ramadhan. Namun, jika kembali ke fakta
bahwa petasan adalah tradisi yang terlahir dari budaya Indonesia, maka mau tak
mau kita sebagai masyarakat Indonesia harus berusaha utuk mempertahankannya
agar kelak anak-cucu kita tetap dapat merasakan kemeriahan akan datangnya Bulan
Ramadhan. Dengan catatan, penggunaan petasan harus digunakan dengan sebijak-bijaknya
serta memperhitungkan resiko yang mungkin akan terjadi sebelum menyalakan petasan
agar kita selalu ingat bahwa di balik setiap perbuatan yang kita lakukan
tersimpan akibat yang nyata.
Selamat
menunaikan ibadah puasa. ^^
@zulfasalsa
~~~



0 komentar:
Posting Komentar