Hari
pertama saya dan keluarga saya berpuasa adalah hari Sabtu, 28 Juni 2014.
Aktivitas di bulan ramadhan saya pada tahun ini hanya berjalan satu hari saja di
Samarinda. Menurut saya, hari pertama puasa itu adalah hari tersedih yang ada
dalam hidup saya—karena besok saya dan keluarga saya akan pindah rumah ke
semarang—. Pada hari itu, saya melihat rumah saya telah dikosongkan. Semua bagian
rumah telah dibersihkan dan semua isi lemari, barang-barang berharga, buku yang
sekiranya masih dapat dipakai dibungkus dalam tas-tas besar dan kardus-kardus
yang jumlah semuanya mugkin lebih dari sepuluh. Ketika saya berdiri di depan kamar
saya, banyak bayangan yang terlintas di hadapan saya. Bayangan tentang diri
saya ketika belajar keras, bayangan ketika saya dan keluarga saya bersama-sama menonton
televisi yang hanya terdapat di kamar saya, juga bayangan saya ketika saya menangis
akibat suatu hal yang tidak bisa saya atasi. Dulunya kamar saya selalu penuh
oleh barang-barang yang kadang tak berguna namun sayang untuk di buang. Tapi,
sekarang kamar itu terasa sangat kosong. Bahkan meja belajar saya yang biasanya
tertumpuk berantakan buku sudah dipindahkan ke bagian rumah yang lain.
Sorenya,
banyak tetangga datang memberikan salam perpisahan karena besok saya dan
keluarga saya akan berangkat setelah sahur menuju balikpapan dan kemudian saya berbincang dengan teman sepermainan
saya dulu. Kami memang sudah tidak begitu akrab lagi karena aktivitas sekolah
yang membuat kami sibuk hingga jarang bertemu lagi. Namun, berbincang lagi dengannya
terasa sangat menyenangkan dan ini adalah sesuatu yang jarang saya lakukan.
Esokya,
kami sekeluarga berangkat setelah sahur dan semua barang telah dimasukkan ke
dalam bagasi mobil. Karena tidak muat, beberapa kardus masih ditinggalkan dan nantinya
akan dikirim lewat pos atau ekspedisi. Saatnya pergi pun tiba. Setelah berpamitan
pada beberapa tetangga yang menyempatkan diri untuk keluar, mobil pun mulai berjalan
pergi meniggalkan rumah yang selama lebih dari 10 tahun telah menjadi tempat
perlidungan bagi saya.
Tiba
di balikpapan, tujuan pertama bukanlah bandara melainkan SMKN 3 Balikpapan
karena kakak saya akan mengikuti ujian saringan masuk STAN. Dia akan menyusul
ke Jogjakarta dengan penerbangan sore. Karena masih agak lama waktu untuk
check-in maka saya, bapak, dan adik memilih berjalan-jalan terlebih dahulu di
bandara baru dengan konsep seperti mall ini. Saya terpukau dengan desainnya
yang modern dan mewah. Berbeda dengan bandara sebelumnya yang menurut saya itu
terlalu kecil sehingga terkadang terjadi penumpukan penumpang. Namun, di
bandara baru ini berbeda. Semuanya di desain nyaman dan bebas full of loaded.
Kekaguman
saya bertambah ketika memasuki ruang tunggu dan menyaksikan betapa luasnya
ruang tunggu tersebut sampai-sampai saya merasa tak kuat karena saya mendapat
Pintu Keberangkatan 10 atau G10 yang merupakan gate kedua sebelum terakhir dan
berarti itu sangaaaaaaaaat jauh sekali dan saya memikul tas ransel yang super
berat. Saya mengeluh dalam hati berharap agar cepat sampai di G10.
Keberangkatan
pun tiba. Sebelum pesawat belum benar-benar take-off saya memandang bandara
sekali lagi dan berharap bahwa kepindahan ini memang adalah keputusan yang
terbaik. TT_TT.
Sekitar
satu setengah jam kemudian, pesawat akhirnya tiba dengan selamat di Bandara
Adisutjipto. Saya sedikit terharu saat melihat tulisan “Welcome to Jogjakarta”
karena akhirnya saya bisa menginjakkan kaki kembali di ‘Kota Pendidikan’ ini
setelah 4 tahun. Sembari menunggu bagasi dikeluarkan, saya pergi ke kamar kecil
dan ketika keluar dari wc saya bertemu
om-om yang lagi menelpon masuk ke toilet wanita. Awalnya saya pikir saya
yang salah masuk, tapi melihat tanda di depan toilet, saya menyimpulkan orang
itulah yang salah masuk. Saya geleng-geleng kepala sendiri. Pasti om-om itu
terlalu asyik telponan sehingga salah masuk toilet dan bergeming saja saat
melihat saya berada di depan westafel toilet tersebut. Ckck -__________-
Keluar
dari pintu kedatangan, kami di sambut dengan para supir taksi yang mencari penumpang.
Mereka menyapa dengan ramah dan menawarkan, “Taksi, mbak?”
Dengan
sopan saya menggeleng dan berusaha melewati uhmm
mungkin ada sekitar belasan supir taksi lain yang menawarkan jasa yang sama.
Keramahtamahan suku jawa inilah yang menurut saya membedakan suku ini dengan
suku yang lain.
Saya
dan keluarga saya akhirnya memutuskan untuk singgah sebentar di rumah salah
satu keluarga yang berada di Jogja sembari menunggu pesawat kakak saya yang baru
akan tiba sekitar jam setengah delapan malam.
Pukul
sebelas lebih, kami benar-benar baru sampai di rumah yang baru alias di
Bandungan, Kabupaten Semarang dan ternyata di rumah itu telah menunggu keluarga besar, ketua RT dan beberapa
warga sekitar yang katanya mau mengadakan selamatan. Weleh. Saya bergumam, padahal
ini sudah larut malam tapi mereka masih aja mau mengadakan selamatan. Saya
berpikir lagi. Hal inilah yang selamanya tidak akan pernah saya temukan di kota
besar. Keakraban, rasa kekeluargaan, dan keramahan.
Di
tengah hembusan dingin angin malam Kabupaten Semarang, saya merasakan kehangatan
di tempat yang baru dan mungkin kepindahan ini tidak akan saya sesali nantinya.
~@zulfasalsa~